HEADLINES.ID - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan Jumat, 19 September 2025. Pergerakan ini menandai titik terlemah rupiah dalam empat bulan terakhir, seiring dengan penguatan indeks dolar yang makin perkasa setelah keputusan rapat The Federal Reserve.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,52% ke posisi Rp16.585 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah juga terkoreksi 0,46% ke Rp16.500 per dolar AS. Secara mingguan, pelemahan rupiah mencapai 1,28% sekaligus menghapus tren positif yang sempat terbentuk selama dua pekan berturut-turut.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap sikap The Fed, bukan semata karena pemangkasan suku bunga. Menurutnya, hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dipandang berhati-hati sehingga mendorong kembali minat investor pada dolar.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah makin berat akibat keluarnya modal asing. Rully Wisnubroto, Senior Ekonom Mirae Asset Sekuritas, menyebut bahwa ketidakstabilan politik usai reshuffle kabinet, terutama pergantian Menteri Keuangan, membuat investor cenderung menarik dananya. Kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia yang agresif melonggarkan kebijakan moneter juga ikut memperparah tekanan.
Menariknya, pelemahan mata uang Asia secara keseluruhan terjadi pekan ini, namun rupiah menjadi yang paling tertekan. Baht Thailand, yuan China, yen Jepang, hingga won Korea juga melemah, sementara peso Filipina justru menguat 0,3% dan rupee India bangkit 0,21%.
Kuatnya dolar Amerika Serikat setelah keputusan The Fed menjadi faktor utama. Meski bank sentral AS memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 4,00 – 4,25%, nada hawkish dalam proyeksi 2026 membuat pasar kembali memburu dolar. Chairman The Fed, Jerome Powell, menyebut langkah pemangkasan suku bunga kali ini sebagai langkah preventif berbasis manajemen risiko, bukan sinyal longgar penuh.
Indeks dolar pun melonjak dari posisi terendah 96,22 pada hari keputusan The Fed, dan ditutup di level 97,64 pada akhir pekan, atau tertinggi sejak 10 September. Kondisi inilah yang membuat nilai tukar rupiah terus tertekan, bahkan mencatatkan posisi paling lemah sejak Mei 2025.
Bila tren ini berlanjut, kita patut mewaspadai dampaknya terhadap inflasi, harga impor, dan daya beli masyarakat. Nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat tentu akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dan pembuat kebijakan dalam beberapa pekan ke depan.