Trump-Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka

Trump dan Xi Jinping membahas Selat Hormuz, perang Timur Tengah, hingga Taiwan dalam pertemuan di Beijing yang disebut Gedung Putih berlangsung baik.
Trinita Adelia - Jumat, 15 Mei 2026 - 12:44 WIB
Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas Selat Hormuz dan isu geopolitik global.
Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas Selat Hormuz dan isu geopolitik global. - Ilustrasi AI
Advertisements

"Kedua kepala negara saling bertukar pandangan tentang isu-isu internasional dan regional utama, termasuk situasi di Timur Tengah, krisis Ukraina, dan Semenanjung Korea," sebut Kementerian Luar Negeri China.

Pertemuan berlangsung di Aula Besar Rakyat Beijing dalam rangka kunjungan kenegaraan Trump yang sempat tertunda.

Kunjungan itu menjadi lawatan pertama Presiden AS ke China dalam satu dekade terakhir.

Advertisements

Xi Jinping Peringatkan Trump soal Taiwan

Isu Taiwan turut menjadi salah satu topik sensitif dalam pembicaraan kedua pemimpin.

Media pemerintah China melaporkan Xi memperingatkan Trump bahwa hubungan Beijing-Washington bisa berubah menjadi konflik apabila persoalan Taiwan tidak ditangani secara tepat.

"Masalah Taiwan merupakan isu terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi Jinping dalam pertemuan tersebut.

Xi juga memperingatkan risiko benturan langsung antara dua negara apabila ketegangan terus meningkat.

Advertisements

"Jika ditangani dengan tidak tepat, kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," ujar Xi.

Pernyataan Gedung Putih sendiri tidak menyinggung pembahasan terkait Taiwan dalam ringkasan resmi hasil pertemuan.

Selat Hormuz Jadi Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global melintasi kawasan tersebut setiap hari.

Advertisements

Ketegangan di wilayah itu meningkat setelah Iran menutup aktivitas pelayaran selama konflik berlangsung, sementara AS merespons dengan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

Meski gencatan senjata rapuh berlaku sejak 8 April lalu, situasi keamanan di sekitar jalur energi global tersebut masih menjadi perhatian utama banyak negara.

Follow Us:

Headlines Indonesia WhatsApp Channel
Share:
Editor: Trinita Adelia
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements