HEADLINES.ID - Film terakhir Kim Sae Ron "Guitar Man" menjadi kenangan paling menyentuh untuk para penggemar.
Ada rasa haru yang sulit dibendung ketika bicara soal film terakhir Kim Sae Ron, apalagi film "Guitar Man" yang segera hadir di layar perdananya pada 21 Mei 2025 lewat sesi press screening, seolah menjadi salam perpisahan yang tak pernah diucapkan langsung oleh sang aktris.
Dalam karya ini, Kim Sae Ron memerankan Yu Jin, seorang pemain keyboard yang ceria dan membawa nuansa terang di tengah kelamnya hidup para tokoh dalam cerita, termasuk sang gitaris utama.
Film ini tidak hanya memuat drama dan musik, tapi juga menyimpan emosi yang mendalam dari perjalanan batin yang menyayat dan penuh makna.
Film Terakhir Kim Sae Ron "Guitar Man" Menyentuh Tema Kehilangan dan Harapan
"Guitar Man" adalah film musikal yang penuh jiwa dan emosi, mengisahkan tentang perjalanan Gi Cheol, seorang gitaris jenius yang terjebak dalam kerasnya realita hidup dan berusaha menemukan makna baru lewat musik.
Lewat dialog dan lirik-lirik yang ditampilkan dalam film ini, terasa kuat bagaimana musik menjadi medium penyembuhan, bukan hanya untuk tokohnya, tapi juga untuk siapa pun yang menontonnya.
Gi Cheol diperankan oleh Lee Seon Jeong, salah satu sutradara film ini, yang menggambarkan sosok pria muda penuh luka dan rasa kecewa terhadap hidup.
Namun, pertemuannya dengan Yu Jin (Kim Sae Ron) dan kawan-kawan di band Volcano perlahan mencairkan rasa dingin di dalam hatinya.
Cerita ini terasa dekat karena banyak orang pernah merasa tersesat, dan film ini datang seperti pelukan hangat di tengah badai.
Kehadiran Kim Sae Ron dalam peran Yu Jin membawa warna yang khas dan terasa sangat otentik, mengingat kisah hidupnya sendiri juga tak jauh dari kesedihan.
Penonton akan merasakan betapa kuat koneksi emosional antara karakter dalam cerita dan kenyataan yang membingkai film ini, sehingga setiap adegannya terasa nyata dan menyentuh.
Kisah Gi Cheol dan Dinamika Emosionalnya Jadi Sorotan di Guitar Man
Gi Cheol bukan tokoh biasa, ia adalah cerminan banyak orang muda yang merasa kehilangan arah dan dikucilkan oleh sistem yang seolah tidak peduli.
Ia putus sekolah, hidup serba kekurangan, dan merasa lebih nyaman membangun tembok daripada membiarkan orang masuk ke dalam hidupnya.