Sate bulayak pertama kali tercipta oleh warga Kecamatan Narmada Lombok Barat dan dari beberapa sumber. Hidangan ini mereka siapkan di pura selama odalan atau ritual agama Hindu.
Sate ini sudah lama masyarakat kenal dan mulai muncul dalam ritual adat sesuai dengan kepercayaan setempat. Dulu, saur (parutan kelapa), kedelai, dan urap jambah mereka sajikan bersama sate Bulayak.
Semua makanan ini kita simpan dalam wadah dulang kemudian kita tutup dengan tebolaq, yaitu makanan khas Lombok yang tutup penyajiannya mendapat hiasan kerang dan cermin.
Penggunaan kaca cermin dan kerang berfungsi sebagai pengingat bagi para tamu untuk menghindari kelebihan barang karena dapat menyebarkan penyakit.
Kedelai, urap jambah, dan sayuran tidak lagi tersedia. Saat ini sate Bulayak hanya tersedia dalam bentuk olahan daging sapi yang sudah ada bumbui Bulayak.
Sate Bulayak tetap menjadi sajian yang wajib dicoba saat berkunjung ke Lombok, apapun itu.